Pages

Selasa, 16 Januari 2018

BIOPIRACY Centella asiatica

MAKALAH

BIOPIRACY Centella asiatica 



 Image result for logo unand





MUTHIA MIRANDA ZAUNIT
1520422009






JURUSAN BIOLOGI
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ANDALAS
Padang, 2015



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar  Belakang Masalah

Penuaan adalah  masalah yang  berhubungan dengan perubahan bentuk dan perubahan kimia yang terjadi sejalan dengan proses bertambahnya usia. Masalah ini merupakan  masalah yang umumnya sangat ditakuti manusia, khususnya perempuan.
Pada era  ini  menuntut manusia untuk lebih banyak bekerja. Gender sudah tidak menjadi penghalang lagi untuk berkarir. Tuntutan pekerjaan yang tinggi menyebabkan masalah  psikis, salah satunya stres. Stres merupakan salah satu penyebab bertambah cepatnya proses penuaan.
Aktivitas kerja menuntun manusia modern untuk berpenampilan menarik. Penampilan ini dapat ditunjang dengan pakainan yang fashionable, riasan wajah, dan perawatan tubuh. Salah satu bagian yang paling mendapat perlakuan serius dalam hal perawatan tubuh ini adalah perawatan kulit wajah.
Perawatan kulit wajah dapat dilakukan dengan menggunakan bahan alami maupun bahan sintetis. Penggunaan bahan alami contohnya menggunakan ekstrak bengkoang sebagai masker wajah. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan banyak waktu dalam persiapannya. Kedua, kelebihan penggunaan cream (produk sintetis) adalah penggunaannya yang praktis sedangkan kelemahannya adalah memungkinkan dampak buruk bagi kesehatan karena mengandung senyawa sintetis. 
Kebutuhan manusia tentang cream perawatan wajah memacu perusahaan kecantikan untuk berlomba-lomba menghasilkan produk dengan kasiat super. Untuk menghasilkan produk ini dilakukan eksplorasi untuk mengetahui bahan alami yang menimbulkan dampak baik untuk kulit. Informasi mengenai kasiat tumbuhan ini diporoleh dari masyarakat tradisional, karena mereka mempunyai ramuan-ramuan tradisional yang berasal dari tumbuhan untuk kecantikan. Pengekplorasian ini telah sampai ke asia. Hal ini terbukti ketika L’oreal Paris meluncurkan produknya berupa cream malam yang mengandung ekstrak tanaman pegangan. Pegangan ini merupakan tanaman asli asia. Olehkarena itu, penulis tertarik menulis paper tentang “Biopiracy Centella asiatica”.

1.2.  Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan:
1.2.1.      Apakah  definisi Centella asiatica?
1.2.2.      Bagaimanakah hubungan Penuaan dengan Centella asiatica?
1.2.3.      Apakah  definisi biopirasi?
1.2.4.      Bagaimana Biopiracy Centella asiatica untuk Cream Wajah Produksi L’oreal ?
1.3.      Tujuan Makalah
Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut:
1.3.1.      Untuk mengetahui definisi Centella asiatica
1.3.2.      Untuk mengetahui bagaimana hubungan Penuaan dengan Centella asiatica.
1.3.3.      Untuk mengetahui definisi biopiracy
1.3.4.      Untuk mengetahui bagaimana Biopiracy Centella asiatica untuk Cream Wajah Produksi L’oreal Paris.

1.4.      Manfaat Makalah
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1.4.1.      Penulis, sebagai salah satu persyaratan untuk melengkapi tugas Mata kuliah Bioprospeksi.
1.4.2.      Pembaca yang ingin mengetahui masalah terkait dengan biopirasi.
1.4.3.      Penulis selanjutnya, makalah ini diharapkan menjadi masukan dalam merumuskan masalah yang berkaitan dengan biopiracy.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Centella asiatica
           
            Centella asiatica merupakan tanaman menahun tanpa batang, mempunyai rimpang yang pendek dan geragih yang panjang dan merayap. Daunnya 2 hingga 10 lembar tersusun dalam satu roset akar, berbentuk ginjal dengan tepi bergigi atau beringgit. Bunga dalam bunga payung yang terpisah atau 2-3 payung berkelompok, berhadapan dengan daun, tiap payung terdiri atas 3 bunga daun pembalut 2-3, tangkai bunga amat pendek, bakal buah berdampingan pada sisi yang terlebar. Daun mahkota kemerah-merahan. Buahnya buah berbelah dan berlekuk dua (Tjitrosoepomo, 1994)
Centella asiatica termasuk tamanan liar, terdapat di seluruh Indonesia dan berasal daei Asia Tropik. Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama pegagan. Tanaman ini hidup pada tempat yang agak lembab dan cukup mendapat sinar matahari atau teduh, seperti di padang rumput, pinggir selokan, dan sawah. Tanaman ini sering dijadikan tanaman penutup tanah di perkebunan. Tanaman ini dapat tumbuh  hingga 2.500 m di atas permukaan laut (Wijayakusuma et al., 1992).
Di Indonesia penyebaran pegagan sangat luas, terbukti dengan banyaknya nama tanaman ini. Klasifikasi ilmiah pegagan sebagai berikut (Tjitrosoepomo, 1994):
Divisio             : Spermatophyta
Sub-Divisio     : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledone
Ordo                : Umbillales
Famili              : Umbilliferae (Apiaceae)
Genus              : Centella
Spesies            : Centella asiatica (L) Urban

2.2. Hubungan Penuaan dengan Centella asiatica

Penuaan kulit tampaknya terutama terkait dengan penurunan tingkat kolagen tipe I, komponen utama dari dermis kulit. Asiaticoside, komponen saponin terisolasi dari pegagan, telah terbukti menginduksi jenis sintesis kolagen di lapisan dermal manusia. (Seevaratnam et al, 2012)

2.3. Biopiracy

            Menurut Gandjar (2012), Biopiracy adalah praktik eksploitasi sumber daya alam dan pengetahuan masyarakat tentang alamnya tanpa izin dan pembagiannya. Secara singkat, Biopiracy dapat diartikan sebagai pencurian kekayaan intelektual. Pencurian kekayaan intelektual ini biasanya dilakukan oleh negara yang lebih kuat dari segi penelitian dan ekonomi terdahap negara yang lebih lemah. Negara yang lebih maju ini memiliki pengetahuan dan teknologi yang memadai untuk mengolah sumberdaya alam agar memiliki nilai lebih, namun mereka kurang memiliki keragaman sumber daya sehinnga mereka mencari sumber daya alam  negara lain.
            Fakta ini jelas merugikan negara yang menjadi korban biopirasi. Selain kehilangan sumberdaya hayatinya, Negara tersebut menjadi tidak bebas lagi menggunakan sumberdaya hayati tersebut. 

2.4.  Biopiracy Centella asiatica Untuk Cream Wajah Produksi L’oreal

            L’oreal Paris adalah sebuah perusahaan kecantikan yang mendunia. Perusahaan ini bermarkas di Paris dan memiliki cabang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tindak-tanduk perusahaan ini untuk mendapatkan posisi di mata dunia patut diacungi jempol. Perusahaan ini tidak hanya mengolah produknya dari bahan sintetis namun juga memasukan ekstrak tumbuhan untuk kasiat yang menakjubkan.
            Untuk mendapatkan sumber daya hayati apa yang dapat dicampurkan ke dalam bahan sintetisnya, L’oreal mengadakan eksplorasi ke berbagai daerah. Eksplorasi tentang manfaat sumber daya hayati ini dilakukan oleh para ahli biologi. Tentunya, para ahli biologi yang mengetahui metode yang tepat dilakukan untuk mengeksplor sumber daya hayati ini.
            Centella asiatica merupakan tumbuhan yang tumbuh di daerah tropis. Dari tata cara penamaannya dapat diketahui bahwa tumbuhan ini adalah tumbuhan asli asia.
            Biopiracy adalah bentuk tindakan penyalahgunaan  ilmu biologi. Tindakan ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat memadai. Aturan tentang Biopiracy sudah tertuang dalam Protokol Cartagena. Namun, tindakan ini masih tetap terjadi karena lemahnya pengawasan dari masyarakat.
Penggunaan ekstrak Centella asiatica dalam cream malam produksi L’oreal Paris dikatakan sebagai sebuah bentuk biopirasi. Perusahaan L’oreal Paris menggunakan ekstrak tumbuhan ini untuk kepentingan komersil produknya. Perusahaan ini juga memegang hak paten terhadap penggunaan Centella asiatica. Pemasaran produk ini sudah sampai ke seluruh dunia, termasuk asia khusunya Indonesia. Tentunya perusahaan yang bermarkas di Paris (Perancis) ini mendapatkan keuntungan komersil yang sangat luar biasa. Penjualan produkuk ini juga tentunya menyumbang pendapatan untuk Negara Perancis.  Namun, asia yang  merupakan habitat asli dari Centella asiatica tidak mendapatkan royalti apa pun atas penggunaan sumberdaya hayatinya ini. Di sini Nampak ketidakseimbangan antara pengguna dengan yang memiliki sumberdaya hayati ini.

Melalui wawancara penulis dengan Bapak Nasir pemilik toko Kosmetik Al Falah yang beralamat di Pasar Pariaman, cream dengan ekstrak Centela asiatica produksi L’oreal dijual dengan harga Rp 162.000,-/unit. Harga ini termasuk ke dalam golongan harga kosmetik menengah dan terjangkau oleh masyarkat umum. Cream ini memiliki pasar tersendiri, yaitu wanita berusia di atas 30 tahun karena manfaat cream ini untuk mengurangi kerutan pada kulit wajah.
Cream ekstrak Centella asiatica produksi  L’oreal memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada produk kosmetik lokal. Salah satu penyebabnya adalah cream ini satu-satunya cream yang memiliki ekstrak  anti penuaan dari bahan alami. Para konsumen cerdas sudah mengetahui bahwa Centella memiliki banyak manfaat, termasuk manfaat untuk menunda penuaan. Olehkarena itu cream ini memiliki nilai jual yang tinggi dibandingkan produk lainnya.



BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Penjualan cream dengan ekstrak Centella asiatica memiliki nilai jual yang tinggi karena produk ini satu-satunya cream yang mengandung ekstrak tumbuhan untuk menunda penuaan. Tumbuhan yang diambil sebagai bahan anti penuaan oleh perusahaan L’oreal berasal dari asia, namun asia tidak mendapat royalti atas penjualan produk ini.

4.2. Saran

            Pemerintah bersama masyarakat terdidik harus memberikan informasi kepada masyarakat non terdidik tentang Biopiracy agar praktek Biopiracy dapat ditekan.


DAFTAR PUSTAKA


Gandjar, Indrawati. 2012. Daerah Tropis Diminati untuk Penelitian Biodiversitas Mikroorganisme.(online),( http://www.antaranews.com/berita/335100/), diakses pada tanggal 2 Oktober 2015.

Seevaratnam, Vasantharuba; P.Banumathi1; M.R.Premalatha, Sp; Sundaram dan  T.Arumugam.2012. Functional Properties of Centella asiatica (l.): A Review. (online), (http://www.ijppsjournal.com/Vol4Suppl5/4798.pdf), diakses pada tanggal 2 Oktober 2015.
Tjitrosoepomo, G. 1994. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Gajah Mada University Press: Yogyakarta.

Wijayakusuma, H; S. Dalimartha; A.S. Wirian. 1992. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Pustaka Kartini: Jakarta.

Rabu, 08 Mei 2013

Judul-judul Skripsi

Buat  yang lagi "galau" nyari  judul penelitian, berikut ada contoh-contoh judul ni...

Khususnya judul-judul ini buat yang kuliah di Jurusan Pendidikan Biologi,
Semoga dapat menginspirasi ...

JUDUL SKRIPSI

1. Hambatan Guru dalam Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme pada Mata Pelajaran Biologi di SMU Negeri 1 Polombangkeng Utara Kab. Takalar (Syahriani)
2. Motivasi Belajar dan Hubungannya dengan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Biologi pada Siswa kelas X SMA Sungguminasa Gowa (Noorhayati)
3. Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Biologi Melalui Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI) dalam Pokok Bahasan Ekosistem pada Siswa Kelas X MA Madani Alauddin Pao-Pao Kab. Gowa (Rasdiana)
4. Pengaruh Model Problem Based Learning (PBI) terhadap Penguasaan Materi Biologi pada Siswa Kelas VII MTs. Madani Pao-Pao Kab. Gowa (Ardawati)
5. Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal-soal Aspek Ingatan, Pemahaman dan Aplikasi dalam Bidang Studi Biologi Kelas VIII MTs. Negeri Model Makassar (Muh. Irwan)
6. Efektivitas Penggunaan Audio Visual dalam Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 12 Makassar (Ratna)
7. Perbandingan Prestasi Belajar antara Mahasiswa yang Menempuh Jalur PMJK dengan SPMB Lokal pada Jurusan Pendidikan Biologi Angkatan 2006 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar (Gunawan MS.)
8. Penerapan Quantum Teaching terhadap Peningkatan Hasil Belajar Aspek Kuantitatif Siswa Kelas VII Putri SMP Muhammadiyah 12 Makassar (Hartina)
9. Pengaruh Penggunaan Penilaian Portofolio terhadap Peningkatan Kualitas Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Biologi X SMA Negeri 3 Makassar (Citra)
10. Optimalisasi Pemanfaatan Buku Paket dalam Proses Pembelajaran Biologi di SMP Negeri 1 Biring Bulu Kab. Gowa (Hamdani)
11. Analisis tentang Pelaksanaan KTSP dalam Proses Pembelajaran Biologi di SMP Negeri 5 Tompo Bulu Kab. Bantaeng (Fahrir)
12. Peningkatan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heat Together (THT) Penelitian Tindakan Kelas Siswa Kelas X SMP Negeri 1 Kab. Maros (Mansur)
13. Hubungan antara Perhatian Siswa dengan Prestasi Belajar dalam Bidang Biologi Kelas XI MAN Ma’rang Pangkep (Darna Suardi)
14. Pengaruh Model Pembelajaran Active Learning terhadap Peningkatan Minat Belajar Biologi Siswa MA Darul Kamal Mandale Kab. Pangkep (Jumrawati)
15. Hubungan Antara Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Madani Alauddin Pao-Pao Kab. Gowa (Hasni)
16. Meningkatkan Kreativitas Berpikir Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Terpadu (Connectiv) pada Mata Pelajaran Biologi Kelas XI SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang (Nini)
17. Identifikasi Kesulitan Belajar dan Cara Penanggulangannya Terhadap Mata Pelajaran Biologi Siswa Kelas XI Madrasah Aliyah Muallimin Makassar (Haslinda)
18. Analisis Tingkat Pemahaman Siswa dalam Materi Konsep Struktur Hewan pada Kelas VII SMP Negeri 3 Kahu Kabupaten Bone (A. Suryaningsih)
19. Efektivitas Pembelajaran Kelompok dan Penugasan Individu dalam Bidang Studi Biologi Siswa Kelas X MA Madani Pao-Pao (Husnul Khatimah)
20. Studi tentang Gaya Belajar Visual Auditorial Kinesketik (V.A.K) dan Hubungannya dengan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA MAN Selayar (Bahoriah)
21. Efektivitas Metode Eksperimen dengan Sistem Penilaian Berbasis Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas X MA Madani Pao-Pao (Sry Endang)
22. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Tipe STAD pada Konsep Sistem Pencernaan di MTs. Nuhiyah Pambusuang Kab. Polman (Raodah)
23. Pengaruh Media Gambar pada Pembelajaran Konsep Sistem Indera terhadap Penguasaan Materi Biologi Siswa Kelas VIII MTs. Aisyiah Sumigo (Rosmi)
24. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Arungkeke Kab. Jeneponto (Saulfiah Saiful)
25. Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Anak Usia 3 – 6 tahun di TK. Poleonro Kec. Libureng Kab. Bone (Andi Isna Juliana)
26. Efektivitas Penggunaan Laboratorium IPA dalam Meningkatkan Kualitas Proses Belajar Mengajar Biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Baraka Kab. Enrekang (Melinda Usman)
27. Peningkatan Penguasaan Materi Sistem Gerak Melalui Pengajaran Peta Konsep pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mattioro Sompe Kab. Pinrang (Hapsah)
28. Penerapan Restitusi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif Mata Pelajaran Biologi Pokok Bahasan Struktur dan Fungsi Jaringan Hewan pada Siswa Kelas XI IPA MAN Baraka Kab. Enrekang.
29. Penerapan Pembelajaran Pola Transaksi Komunikasi Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Kingdom Plantae di Kelas X SMAN 21 Makassar
30. Efektivitas Metode Tanya Jawab dalam Proses Pembelajaran Biologi Siswa Kls VII MTs. Muh. Sepa Kec. Amahai Kab. Maluku Tengah
31. Hubungan Antara Konsep diri dan Cara Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Biologi Kls VIII MTs. Syekh Yusuf Sungguminasa Gowa
32. Peningkatan Hasil Belajar Biologi Melalui Pemberian Soal-Soal Latihan Pada Pokok Bahasan Kelangsungan Hdp Mahluk Hdp Siswa Kls IX SMPN 1 Tanete Rilau Barru
33. Efeektifitas Microteaching dalam Pelaksanaan Praktek Mengajar Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Biologi Fak. Tarbiyah & Keguruan UIN Alauddin Makassar.
34. Optimalisasi Pemanfaatan Perpustakaan dalam Prospek Pembelajaran Biologi Pada Siswa Kls IIIa MA Guppi Gowa
35. Efektivitas Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran Biologi dengan Pokok Bahasan Sirkulasi darah Manusia Pada Siswa Kls II MAN Binamu Jeneponto
36. Pengaruh Kecerdasan dan Kreatifitas Belajar Biologi terhadap Hasil Belajar Biologi Pada Siswa Kelas VIII
37. Perbandingan Hasil Belajar Berdasarkan Gender Pada Mata Pelajaran Biologi Materi Sistem Reproduksi Manusia Kelas XI Madrasah Aliyah Ponpes An-Nadlah Ujung
38. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Biologi dengan Menggunakan Tioe Think Pair And Share (TPS)
39. Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Model Reciprocal Teaching Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Pada Konsep Keanekaragaman Hewan
40. Pengembangan Model Supervisi Akademik Mata Pelajaran Ipa (Biologi)
41. Penguasaan memahami grafik dan konsep biologi pada siswa SLTP : studi eksperimen konsep ekosistem dan saling ketergantungan terhadap siswa kelas 1 SLTP negeri di Bandung
42. Penggunaan asesmen portopolio pada pembelajaran konsep keanekaragaman hayati dalam mencapai ketuntasan belajar siswa Madrasah Aliyah
43. Penerapan model mengajar induktif dengan menggunakan pendekatan analogi sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pengajaran biologi : studi peningkatan pembelajaran biologi di kelas 3 sebuah SMU Negeri di Kabupaten Ciamis
44. Penerapam pendekatan pengungkapan nilai dalam upaya meningkatkan hasil belajar kognitif dan pengembangan nilai afektif siswa melalui pengajaran biologi : studi eksperimen dalam mengajar topik lingkungan di kelas I SMU Negeri I Banda Aceh
45. Penerapan Sq3r Dengan Catatan Graphic Postorganizer Pada Model Belajar Heuristik Vee Dalam Pembelajaran Biologi

(Judul-judul di atas diambil dari berbagai sumber)

Rabu, 01 Mei 2013

CARA MEMBUAT TAKSIDERMI ULAR


TAKSIDERMI ULAR



Taksidermi adalah replikasi hewan mati yang terbuat dari kulit hewan yang diisi dengan kapuk atau  sabut kelapa. Hewan-hewan yang biasa dibuatkan taksidermi adalah ular, kelinci, biawak, kura-kura, pongo, dan kera.  Taksidermi biasanya digunakan sebagai media dalam pembelajaran biologi dan juga sebagai hiasan. Keunggulan  taksidermi sebagai media pembelajaran biologi adalah keasliannya karena terbuat dari hewan asli dan  tidak membahayakan bagi siswa. Sedangkan kelemahannya adalah hanya morfologi hewan  saja yang bias diamati melalui taksidermi.
Berikut ini disajikan alat, bahan, serta langkah-langkah menbuat Taksiderni Ular. Cara pembuatan yang kami plih adalah menguranggi pemakaian bahan kimia berbahaya. Sebagai pengganti formalin untuk bahan pengawet ular, kami gunakan garam dapur. Namun untuk pembius ular kami masih menggunakan kloroform, karena kami membutuhkan bentuk utuh ular untuk taksidermi ini.
Bahan yang digunakan:
1. Ular                                   1 ekor dengan panjang 2 m
2. Garam                               1 kg
3. Kloroform                        30 ml
4. Kapuk                               1 Kg
5. Nilon                                 3 m
6. Kawat                               3 m
7. Manik-manik                     2 buah
8. Ranting kayu
9. Cat warna coklat 
10. Vernis
11. Kuas cat
12. Pot
13. Kerikil dan tanah liat
14. Air kran yang mengalir
15. Kertas label klasifikasi ular.

Alat yang digunakan adalah:
1. Gunting yang tajam
2. Jarum jahit yang besar
3. Pisau yang tumpul
4. Ember dan  tutupnya

Langkah-langkah membuat Taksidermi Ular:
1. Membius ular dengan menggunakan kloroform.
 Pembiusan ini dilakukan dengan cara memasukan kloroform  ke dalam kantong plastik, lalu memasukkan        kepala ular ke dalamnya, dan kemudian meng ikat kantong tersebut. Selanjutnya memasukkan ular ke dalam ember yang tertutup. Biarkan selama 5 menit

2. Mendislokasi ular dengan cara menarik kepala dan ekornya secara bersamaan.

3. Menggunting bagian ventral ular yang sejajar dengan linea alba sepanjang 10 cm.

4. Melepas kulit ular dengan cara menarik kulit sehingga terpisah dai ototnya.

Pelepasan kulit ini harus dilakukan dengan hati-hati agar kulit ular tidak robek.

5. Membersihkan kulit ular dari otot dan lemak yang masih menempel dengan menggunakan pisau yang tumpul.
Pembersihan ini mempunyai peran sangat penting dalam  menjaga ketahanan taksidermi. Otot dan lemak yang masih menempel pada kulit dapat mempercepat pembusukan taksidermi karena di sana akan tumnbuh mikroba pembusuk.

6. Mengeluarkan otot dan kemak serta mata ular di bagian kepala.

7. Mencuci kulit ular pada air yang mengalir sambil membersihkan sisa-sisa lemaknya.

8. Mengisi rongga kulit ulat dengan garam .

9. Menyimpan kulit yang berisi garam  ini  di dalam ember yang tertutup agar tidak dimakan tikus. Biarkan selam 24 jam.

10. Menccuci kulit ular yang berisi garam pada air yang mengalir.

11. Menjemur kulit ulat di bawah sinar matahari selama 30 menit.
Dalam penjemuran ini kulit ular harus tetap diawasi agar tidak dimakan hewan dan jangan sampai kulit ular mengeras.
12. Mengisi rongga kulit ular dengan kapuk.

13. Proses ini dapat dipermudah dengan menggunting bagian-bagian tertentu untuk memasukkan kapuk. 

14. Mengguntinggya tidak boleh lebig dari 5 cm agar kulit ular tetap terlihat rapi.

15. Menjahit bagian kulit yang digunting dengan menggunakan nilon dan penjahit.

16. Memasangkan manic-manik pada rongga mata ular,

17. Menjemur ular di bawah sinar matahari selama 30 menit.
18. Memvernis kulit ular dan menjemurnya kembali selama 30 menit.

19. Mengecat ranting kayu dengan cat warna coklat.

20. Memasukkan ujung ranting pada sebuah pot dan mengisi pot tersebut dengan batu dan tanah liat.

21. Melilitkan ular pada ranting kayu tersebur dan diikatkan keranting dengan nilon.

22. Menempelkan atau menggantungkan kertas klasifikasi ular pada ranting kayu  tersebut.

Pembuatan taksidemmi ini membutuhkan waktu sekitra tiga hari. Biaya yang dibutuhkan sekitar dua ratus ribu rupiah, yang terdiri dari  lima puluh  ribu untuk ular dan lima puluh ribu untuk bahan  lainnya. Jika, Anda bisa membeli ular dengan harga yang lebih murah atau mungkin memcarinya sendiri, maka dana yang dibutuhkan tentu bisa jauh lebih rendah. SLAMAT MENCOBA!!!